06 January 2008

Aku Soku Zan

Bagi penggemar manga, terutama Rurouni Kenshin, pasti mengerti apa arti kalimat yang menjadi judul tulisan ini. Aku soku zan atau bisa diterjemahkan sebagai membunuh kejahatan secara instan merupakan motto hidup Saitou Hajime(yang kemudian mengubah namanya menjadi Fujita). Kita tidak akan membahas tentang siapa itu Saitou, apalagi tentang cerita Rurouni Kenshin. Hal yang akan dikupas adalah kalimat yang menjadi judul tulisan ini, aku soku zan.

Apa yang akan anda lakukan ketika anda mengetahui bahwa sahabat anda atau pihak keluarga anda yang dikenal dengan baik, terbukti melakukan pelanggaran hukum? Sebagian orang mungkin akan membela secara buta dan berusaha menjaga keamanan sahabat atau keluarga mereka itu. Bahkan ada yang rela "membeli" hukum agar tidak ada hukuman yang mengenai orang tersebut.

Perbuatan tersebut bisa saja dianggap sebagai perbuatan yang benar dan baik secara naluriah,
karena pada dasarnya tidak ada manusia yang rela jika orang yang dicintainya tersakiti, namun
manusia hidup tidak hanya berdasarkan naluri, sebab ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh manusia. Inilah salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lainnya.

Dalam salah satu manga yang lain, yaitu Detective Conan, saat Shinichi Kudo diberikan pertanyaan yang telah ditulis di atas, dia menjawab "Aku tetap akan menyerahkannya kepada yang berwajib", tapi dia pun menambahkan "Namun, aku akan berusaha mencari bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak bersalah". Sejalan dengan prinsip aku soku zan dan jawaban Shinichi, objektivitas dan ketegasan terhadap penegakan hukum mutlak diperlukan.

Saitou dengan prinsip aku soku zan-nya menjadi alat yang efektif untuk menghukum para pelaku kejahatan menurut pemerintah (Saitou selalu bekerja di bawah naungan pemerintah). Dia tidak menggunakan perasaannya dalam melakukan tugas, dan itulah sebabnya pada akhirnya dia tetap mampu bekerja sama dengan Kenshin Himura dalam membantu pemerintah, (pada masa pemerintahan sebelumnya Kenshin dan Saitou merupakan musuh abadi). Satu-satunya hal yang dipegang Saitou dalam menajalankan tugas adalah keyakinannya bahwa tidak ada toleransi bagi kejahatan dan pelaku kejahatan.

Jika diperhatikan, maka akan terlihat kesamaan prinsip kedua karakter di atas dengan salah satu Khalifah diantara Khulafaurrasyidin, yaitu Umar bin Khattab. Mungkin ada yang pernah mendengar kisah saat sang khalifah rela menghukum anaknya yang terbukti meminum minuman yang memabukkan. Meskipun hukuman tersebut merenggut nyawa anaknya.

Antara Saitou, Shinichi dan Umar bin Khattab memiliki satu kesamaan, mereka tidak menerima toleransi apapun dari kesalahan. lalu bagaimana dengan kita?

Reactions:

0 comments:

Post a Comment