28 October 2007

sedikit pandangan tentang wanita (studi kasus aja)

ikut-ikutan saudara saya yang nulis tentang wanita di blognya. juga berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya walaupun tidak ada kaitannya secara langsung. selain itu juga karena pengaruh suasana hati yang sedang ingin dekat dengan seseorang dekat tapi jauh, dan jauh tapi dekat. tulisan ini pun dipicu -kalo boleh dibilang sebagai alasan dasar- oleh materi obrolan ringan saya dengan seseorang, terutama bagian "menangis", "emosi", "logis", "perasaan", dan "wanita". kata dia sih waktu ngobrol dia sampai menangis, namun berhubung saya lagi ngebelakangin dia, jadi ga tau kondisi nyata nya seperti apa, dan saya dilarang melihat dia (mungkin malu kali ya... diliatin pas lagi nangis, sori bu... sengaja >:))

"kok, dirimu keliatannya hepi-hepi aja sih, kaya ga ada masalah?", kalimat tersebut merupakan bagian dari kalimat-kalimat awal pembukaan obrolan ringan saya dengan seseorang. waktu saya SMA, guru sosiologi saya pernah berkata, "manusia itu hidup dari satu masalah ke masalah lainnya, oleh karena itu yang jadi masalah bukanlah maslah tersebut, tetapi cara menyelesaikan masalah.", selain itu ada juga yang pernah berkata, "hidup itu cuma sekali, jadi nikmatin aja", dari kedua pernyataan inilah muncul sikap saya yang always be happy.

kenapa teman saya bicara seperti itu? saya sendiri tidak tahu secara pasti, tapi tampaknya dia sedang kelelahan dalam menyimpan masalah, (bener ga, bu?) saya tidak tahu dan tidak mau mencari tahu alasan sebenarnya. eh, iya. semoga sudah bisa ditebak, teman yang ngobrol ringan dengan saya ini bukan seorang laki-laki.

ada beberapa hal yang dia bicarakan dengan saya, mulai dari keinginannya untuk "menghilang", masalah ketidak sekufuan pemikirannya dengan laki-laki yang sedang taaruf dengan dia (eh, apa udah ngekhitbah ya?), dan... apa ya, lupa :D (maklum, soalnya lagi konsentrasi nyelesain kerjaan sih), kalo ga salah sih ada nangis-nangisnya gitu, misalnya, mudahnya wanita untuk menangis, keinginan dia untuk ga gampang nangis, yang buntutnya saya mengatakan "kalo mau nangis, nangis aja. ga ada yang salah kok kalo manusia menangis". kemudian juga dia ngomong tentang perasaan, saya lupa gimana redaksinya, tapi yang jelas pernyataan balesan saya adalah "mangkanya libatin perasaan juga dalam membuat keputusan, berpikirlah dengan hati dan merasalah dengan akal".

dari obrolan tersebut saya mengambil kesimpulan, bahwa teman saya yang bukan seorang laki-laki itu adalah tipe manusia yang:
1. ingin terlihat kuat dan tegar
2. masih bisa mengalami kelelahan dalam mengatasi beragam masalah yang ada
3. butuh orang lain untuk bertukar perasaan
4. masih seorang manusia
5. masih mudah terbawa emosi/ perasaan dalam menilai sesuatu

ga ada bedanya ya ama laki-laki?

Reactions:

2 comments:

tapi...tetep aja kita mah butuh perempuan :))

Coz woman acts with heart while man acts with his mind. Crying is mostly an expression of heart.

Post a Comment