13 August 2006

Berkencan Dengan Bencana

Apa yang akan kita lakukan ketika mendengar ada orang lain di tempat yang jauh dari kita, mengalami bencana? Apakah kita akan langsung menuju ke tempat kejadian perkara? Apakah kita langsung menyebarkan informasi tersebut dan mengajak orang lain untuk memberikan bantuan? Apakah kita akan tetap duduk menyaksikan perkembangan beritanya dan terus berdoa? Apakah kita akan memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan kita? Hal yang paling mendasar sebenarnya adalah apakah kita sadar apa bencana terbesar dan terburuk bagi manusia?

Bencana-bencana yang terjadi telah merenggut nyawa begitu banyak makhluk hidup, tidak hanya manusia. Manusia, sebagai makhluk sosial dan memiliki perasaan, sudah sepantasnya berempati kepada makhluk lainnya yang terkena bencana. Manusia sudah ditakdirkan untuk dapat merasakan perasaan makhluk lain di sekitarnya, namun pernahkah kita berempati kepada diri kita sendiri? Pernahkah kita berempati kepada alam? Sudah berapa kali kita menyimpan sampah pada tempatnya? Sudah berapa kali kita mengurangi polusi air, tanah, udara dan suara? Seberapa seringkah kita berusaha mencegah bencana? Sudah berapa kali kita memelihara diri kita sendiri?

Manusia sering bertindak reaktif terhadap informasi yang didapatkan karena memang itu sudah fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Kecepatan reaksi kita terhadap peristiwa yang terjadi terhadap manusia lainnya menunjukkan tingkat solidaritas kita, namun tidak menunjukkan tingkat kepedulian kita terhadap alam sekitar. Kita mungkin sering memberikan bantuan kepada para korban bencana alam, tapi seringkah kita melakukan perawatan terhadap alam sekitar? Sudah sesering apakah kita menanam pohon? Sudah pedulikah kita dalam proses daur ulang sampah? Sudah sejauh apa usaha kita dalam mengirit energi? Sudah seperti apakah usaha proaktif kita dalam bercengkrama dengan alam?

Bencana-bencana yang terjadi akibat proses alamiah sudah dapat diramalkan kejadiannya oleh para pakar di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka sudah mampu menciptakan alat-alat yang dapat memperkirakan terjadinya peristiwa alam. Mereka juga sudah mampu menciptakan metode untuk meminimalisasi korban dari peristiwa alamiah itu, namun kemampuan mereka belum mampu dan tak akan mampu menghentikan kematian makhluk hidup, sebab kematian adalah kepastian. Makhluk hidup dapat dikatakan hidup jika dia mengalami kematian. Mati di sini berarti tidak akan mengalami hidup lagi di dunia ini.

Manusia yang beragama ataupun tidak, yakin bahwa dirinya pasti akan mati, tetapi ada perbedaan dalam menyikapi kematian. Manusia yang beragama akan berbuat sebaik-baiknya di dunia sebab mereka yakin bahwa ada kehidupan lain setelah kematian. Mereka juga berbuat baik dalam hidupnya untuk berterima kasih kepada penciptanya atas pemberian kehidupan kepada mereka. Orang-orang yang tidak beragama akan berbuat sesuka mereka, ada yang berbuat baik karena rasa simpati kepada makhluk lainnya, ada juga yang berbuat kerusakan menuruti hawa nafsunya. Mereka berbuat seperti itu karena mereka yakin bahwa setelah mati mereka tidak akan hidup lagi, jadi mereka akan menikmati hidup mereka sesuai dengan keinginan mereka. Bagaimana dengan kita?

Kembali ke masalah bencana. Bencana dapat dijadikan sebagai sebuah pelajaran. semua wilayah yang ada di bumi pasti akan mengalami gempa bumi, baik itu gempa vulkanik yang disebabkan oleh aktivitas gunung berapi maupun gempa tektonik yang disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi. Tsunami, Lanina dan El Nino pasti akan dialami oleh seluruh wilayah bumi yang dekat dengan lautan, sebab ketiganya merupakan peristiwa alamiah yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kebakaran, banjir, tanah longsor dan bencana-bencana alam lainnya merupakan akibat dari ulah manusia. Semua bencana tersebut harus dijadikan pelajaran bagi manusia. Bencana alamiah tidak dapat dicegah, namun dampaknya dapat diantisipasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bencana yang disebabkan oleh tangan manusia dapat ditanggulangi melalui bersahabat dengan alam.

Terjadinya bencana alam di Indonesia semoga memberikan kesadaran kepada kita semua akan pentingnya lingkungan kita. Pengambilan hikmah sampai sekarang hanya sebatas kesadaran yang semu, dimana kesadaran tersebut akan timbul setelah adanya bencana yang telah memakan banyak korban, namun kemudian kita melupakannya kembali. Penghijauan dilakukan setelah adanya peristiwa dan memperingati Hari Bumi, pembersihan pantai hanya dilakukan pada saat Hari Bumi, kebersihan kota hanya dilakukan menjelang penilaian ADIPURA. Hal itu masih memberikan kesan kegiatan yang simbolis tanpa memberikan suatu kesadaran kepada kita semua akan pentingnya lingkungan kita. Namun demikian kita masih patut bersukur. Kita masih melakukan kepedulian terhadap lingkungan dari pada tidak sama sekali, akan tetapi alangkah lebih bijaksana lagi jika melakukan pencegahan sebelum segala sesuatunya terjadi. Sebagai penutup, sebenarnya bencana yang terbesar bagi seorang manusia adalah kesendirian, karena ketika manusia benar-benar sendiri, baik secara fisik maupun perasaan, maka sebenarnya dia telah mati.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment