15 October 2006

sang pemimpin

entah kenapa kini saya sedang ingin mencari tahu tentang pemimpin. namun, karena saya masih sangat ingin tahu tentang pemimpin maka saya pun melakukan penggoogelan dan inilah hasilnya :

Untuk tampil ke depan dan dituruti, selain memerlukan credibility (dinilai mampu, ahli, dapat dipercaya, tidak bias), ada baiknya pemimpin punya daya tarik. Daya tarik itu kita sebut kharisma. Webster mendefinisikan Charisma sebagai “A magnetic personality”, yaitu sebuah energi besar yang mampu membuat semua mata tertuju pada Anda serta menuruti kata-kata Anda sambil manggut-manggut. Tidak semua orang memiliki charisma. Bayangkan, hanya dalam tempo yang singkat mereka berhasil membangun jaringan dan kekuatan, bahkan dengan berani melawan kekuasaan lama yang sangat kuat dan tertata baik. Ketika transparansi dan accountability sudah menjadi tuntutan masyarakat, ada baiknya para politisi berpaling kepada “CEO-type leaders”. Di dunia ekonomi, ternyata diketahui bahwa CEO-CEO yang berhasil, tidak melulu seseorang yang charismatic. Di dunia internasional kita mengenal CEO-CEO yang sangat rendah hati, introspektif, lebih banyak mendengar, pragmatic, dan lebih banyak memimpin dengan contoh daripada dengan kata-kata. Mereka semua berorientasi ke dalam, membenahi organisasi dan manusia daripada sibuk menjadikan dirinya penguasa terkenal, tapi karya-karya mereka berakar kuat ke dalam, dan mampu membuat lembaga mereka tumbuh berkelanjutan. James C. Collins dan Jerry I. Ponas dalam karya ilmiahnya yang berjudul Built to last menandakan bahwa “charisma not required”. Kalau Anda seorang pemimpin yang kharismatik dan high-profile, itu bagus, tetapi kalaupun tidak, itu juga tidak jelek. (dari : http://jkt.detik.com/kolom/rhenald/kolom/200504/20050428-151341.shtml)

Ki Hajar Dewantara mengajarkan kepemimpinan kepada bangsa untuk tut wuri handayani, ing madyo mangun karso, dan ing ngarso sung tulodo. Artinya, kepemimpinan itu di belakang memberi dorongan, di tengah membangun prakarsa, dan di depan memberi teladan. KH Abdurrahman Wahid menyebutkan arti seorang pemimpin bagi Islam, dia adalah pejabat yang bertanggungjawab tentang penegakan perintah-perintah Islam dan mencegah larangan-larangan-Nya, atau, Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Pemimpin disebut cakap dan luar biasa bila dia tidak sekedar memiliki visi dan melaksanakan visinya. Melainkan, ini yang terutama, dia bisa mengimpartasikan visinya itu kepada orang lain. (dari: http://www.tokohindonesia.com/majalah/12/kapur-sirih.shtml)

ada beberapa sikap pemimpin sejati yang diharapkan oleh rakyat antara lain adalah:
1) Berfikir dan Bertindak ilmiah. 2) Memiliki sikap empati dan sensitivitas terhadap rakyatnya.3) Mampu berkomunikasi dengan rakyatnya.4) Berani menuangkan gagasannya pada ruang publik.5) Memiliki kredibilitas moral yang teruji. (dari : http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=37)

Ketika diangkat sebagai khalifah,Abu Bakar ra menyampaikan pidato. Ada 7 poin yang dapat diambil dari inti pidato khalifah Abu Bakar ra : 1) Sifat rendah hati.2) Sifat terbuka untuk dikritik.3) Sifat jujur dan memegang amanah.4) Sifat berlaku adil.5) Komitmen dalam perjuangan.6) Bersikap demokratis.7) Berbakti dan mengabdi kepada Allah (dari : http://pribadi.or.id/diary/2003/07/18/profil-pemimpin-islam/)

Di masa-masa yang sulit, dunia memberi tempat yang istimewa bagi pemimpin-pemimpin kharismatik. Mereka bahkan mampu menjadi pemimpin besar, yang bukan sekedar memberi arah, melainkan mengambil rasa sakit kita, memberi perlindungan, dan bahkan merekatkan butir-butiran pasir yang lepas-lepas. Problem dengan charismatic leadership ternyata tidak melulu datang dari sang pemimpin, melainkan juga dari para pengikut. Orang-orang yang ketakutan, menanggung beban berat, cemas dan hidup dalam masa sulit memberikan otoritas kharismatik kepada siapa pun yang dianggap bisa dan mau memanggul beban itu. Ketika yang bersangkutan memberikan janji kesanggupan, maka label itu pun disematkan di dadanya.

“Kita punya banyak pemimpin berbakat, maka ijinkan Saya pulang. Selanjutnya kalianlah yang menentukan arahnya.” (Martin Luther King menjelang kematiannya)
(dari : http://jkt.detik.com/kolom/rhenald/kolom/200505/20050506-111515.shtml)

demikianlah hasil googling saya, tentunya tulisan ini telah mengalami pengeditan seperlunya. semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan bagi siapapun yang ingin mencari pengetahuan
-----------------------------
dipublikasikan pertamakali sebagai bahan publikasi saya selama masa kampanye pemilihan ketua Sema Unikom periode 2006/2007

Reactions:

1 comments:

Cieeee...yang calon ketua senat...:p
Ada yang kurang tuh, pemimpin yang baik juga kadang adalah pemimpin yang 'kebetulan' ada pada suatu masalah yang tepat, dan bisa memberikan solusi yang tepat, pada saat yang tepat. Karena memang tidak setiap pemimpin bisa memberikan solusi yang terbaik...bingung gk?? bingung ya...? :D Terkadang untuk jadi pemimpin, jangan terlalu banyak pertimbangan. Pertimbangan perlu, tapi jangan kebanyakan, malah bikin sulit mengambil keputusan. ;)

Post a Comment