10 February 2008

kemiskinan : sedikit telaah aja

mau ikut-ikutan donny yang menulis tentang parade kemiskinan di blognya sendiri. soalnya dah lama ga bikin tulisan, so... masih males nyari ide sendiri nih. tenang aja, sudut pandang yang digunakan beda kok. menarik atau tidaknya silakan putuskan sendiri setelah membaca ya..

here we go...

banyak orang yang merasa risih dengan status kemiskinannya. di sisi lain, ada juga orang yang bangga dengan kemiskinannya, malah bangga menunjukkan bahwa dia adalah orang miskin. orang yang risih, ada yang bersusah payah keluar dari kemiskinannya, bahkan tega melakukan tindakan yang belum tentu benar menurut hukum (baik itu hukum negara maupun hukum agama). umumnya penjudi, pemeras, pencuri, perampok, penipu, pembajak (selain pembajak sawah) dan sodara-sodaranya adalah orang-orang yang ingin segera keluar dari kemiskinan.

ada juga yang menutupi kemiskinannya dengan cara membeli kemewahan, meskipun hanya sebuah imitasi. mungkin ada yang pernah melihat orang yang lebih memilih untuk berhutang untuk dapat membeli sesuatu, dari pada membayar hutangnya. alasannya : demi gengsi.

berbeda dengan orang-orang yang risih dengan kemiskinannya, orang yang bangga dengan kemiskinan memanfaatkan statusnya itu agar mendapatkan sesuatu dengan mudah. kebajikan pemerintah yang membuat kebijakan Asuransi Kesehatan (Askes), atau Bantuan Langsung Tunai (BLT), atau kebijakan-kebijakan lainnya yang berkaitan dengan masyarakat miskin banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang bangga dengan kemiskinannya, atau lebih tepatnya "merasa miskin".

selain memanfaatkan fasilitas dari pemerintah, orang-orang tersebut pun ada yang memilih berprofesi sebagai pengemis, sekali lagi berprofesi sebagai pengemis. terlepas dari benar atau tidaknya berita ini mungkin ini yang menjadikan orang terpicu untuk berprofesi sebagai pengemis juga bangga dengan kemiskinannya.

kemiskinan di atas merupakan pemikiran tentang kemiskinan secara materi. ya, seringkali kemiskinan dikaitkan dengan materi, bahkan bank dunia memiliki ukuran untuk melihat jumlah kemiskinan secara materi, yaitu pengeluarannya $1 per kapita per hari atau kurang. ntah bagaimana cara penghitungannya... silakan pikirin sendiri ya...  :cekekekek:

ada yang menilai bahwa kemiskinan yang ada merupakan sebuah tindakan yang telah dirancang secara matang, eli menyebutnya "pemiskinan yang terstruktur", alasannya... silakan tanya sendiri, atau konsultasi ke mbah gugel    :siul:


inti dari tulisan di atas adalah, kemiskinan merupakan sebuah masalah yang harus diatasi. benarkah?
silakan lanjutkan membacanya  :senang:

terlepas dari itu semua, namun masih ada hubungannya (bingung pastinya kan? :tawasetan: ), ada sebuah pemikiran lain. (ya... seperti biasa, selalu ada paradigma lain tentang suatu masalah :hehehe: ). paradigma itu adalah, kemiskinan merupakan sebuah bentuk lain dari perasaan, jadi tidak selalu menjadi sebuah masalah yang harus diatasi. ya, kemiskinan (materi) adalah kondisi dimana seseorang merasa kurang terhadap materi yang dimilikinya. orang miskin selalu disamakan dengan orang yang tidak bahagia, selalu kekurangan, selalu kesulitan. padahal sebenarnya tidak selalu. sedikitnya jumlah materi tidak lantas membuat seseorang pasti merasa kesulitan, tidak bahagia, ataupun kekurangan.

mungkin ada yang pernah melihat seorang tukang becak yang selalu tersenyum dan terlihat bahagia mengantar penumpangnya ke tempat tujuan, meski area kerjanya kian dibatasi oleh pemerintah demi nama kenyamanan, keamanan, keindahan dan ketertiban. saya pernah bertemu dengan seorang penjual roti bakar dipinggir jalan yang tidak rela menerima BLT, karena masih merasa mampu membiayai hidup keluarganya sendiri, dan dia bangga dengan prinsipnya itu (tidak ada aura sombong saat dia mengatakan itu, dan semoga memang dia tidak sombong).

jika diperluas ke arah non materi, begitu banyak bentuk kemiskinan. dampak dari kemiskinan pun kian banyak, bahkan lebih berbahaya daripada kemiskinan materi, mulai dari global warming, kecelakaan lalu lintas, bahkan perpecahan antar individu.

oleh karena itu, kemiskinan tidak selalu merupakan sebuah permasalahan. tidak ada salahnya jika kita memang dikategorikan sebagai orang miskin berdasarkan kriteria dari bank dunia. bukan masalah jika kita hanya terbiasa makan sesuai porsi 4 sehat tanpa 5 sempurna. bukan masalah ketika kita diperkirakan tidak akan mampu membayar biaya pendidikan anak. keadaan miskin materi bukanlah permasalahan utama yang  menjadi prioritas utama untuk diselesaikan, namun bukan berarti miskin secara materi tidak perlu diselesaikan, sebab rosul menegaskan bahwa kefakiran dekat dengan kekafiran (periksa sendiri deh haditsnya). :senang:

masalah terkait kemiskinan adalah ketika ada yang memiliki pendapatan $1 perjam dengan sampingan sekitar Rp 21 juta perbulan masih menuntut penerimaan BLT, bahkan menyogok agar tidak ikut antri. (extreem banget ya?  :cekekekek: ) atau secara ilmiahnya sederhananya disebut syndrom-merasa-miskin-jadi-berhak-untuk-mengemis (jika sulit membacanya, cukup baca yang dibold). inilah persoalan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. jika mau lebih spesifik lagi, maka hal yang perlu segera diperbaiki adalah sisi nonmateri manusia.

bagaimana cara untuk memperbaiki sisi non materi manusia? perkataan selalu lebih mudah dari pada perbuatan. sesuatu yang sangat sederhana untuk diucapkan tapi sulit untuk konsisten dilakukan, entah karena kurang sabar (lagi-lagi ini penyakit perasaan), tidak percaya atau alasan-alasan lainnya. bagi saya, solusi untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah kembali kepada sang pembuat dan pemilik jiwa, karena DIAlah yang paling mengerti tentang sisi non materi manusia. konkritnya adalah menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. lebih spesifik lagi adalah meneladani hal-hal yang diserukan oleh rosulNYA semampu kita dan meninggalkan segala yang dilarang oleh rosulNYA.

masih tidak jelaskah? bingungkah? belum puaskah?

selamat!!! karena berarti otak anda dan perasaan anda masih berfungsi dengan baik, silakan cari tulisan lain dari penulis yang lain.


tambahan dikit:
hadist terkait masalah pengemis silakan cek kesahihan hadits-hadits berikut :


“Sesungguhnya meminta-minta itu sama dengan luka-luka yang dengan meminta-minta itu berarti seseorang melukai mukanya sendiri. Oleh karena itu, siapa mau silakan menetapkan luka itu pada mukanya, dan siapa mau silakan meninggalkan, kecuali meminta kepada sultan atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain.” (HR Abu Daud dan Nasai)

Akan tetapi, meski demikian, Rasululloh SAW juga menyarankan untuk bekerja daripada mengemis, karena BEKERJA ITU LEBIH BAIK DARIPADA MENGEMIS. Dasarnya adalah hadits berikut,“Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (Mutafaq’alaih)

“Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.”(HR Tarmidzi)

”Siapa yg meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat dan makan batu dari neraka jahanam. Oleh karena itu, saa yg mau silakan minta sedikit dan siapa yg mau silakan minta sebanyak-banyaknya.”(HR Tarmidzi)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment